PROGRES PENURUNAN INDIKATOR DIABETES DENGAN OLAH PERNAPASAN DAN ETIS BIMBINGAN PELATIHAN.

Anda masih ingat dengan ibu ini ? Ya, ibu Susi namanya, yang datang khusus datang dari Jakarta untuk mencari tahu bagaimana caranya agar diabetesnya bisa sembuh. Anda bisa menyaksikan testimoni dan juga prosesnya berlatih selama 2 minggu di Pontianak, berikut pencapaian-pencapaiannya.

Karena alasan waktu kunjungan yang sempit dan terbatas, selama 2 minggu itu, ibu Susi Ikut berlatih dengan 3 cara, ( anda bisa lihat foto dokumentasinya )

1. Berlatih bersama dalam komunitas, Agar memiliki spirit dan kekuatan bersama orang lain dalam menghadapi penyakit.

2. Berlatih dengan bimbingan secara privat. Bertujuan melakukan pendalaman materi latihan dan pemahaman

3. Berlatih secara mandiriBisa melakukan sendiri upaya menuju sembuh

Hasilnya adalah gula darah secara perlahan turun dari awal adalah 285 dan secara random bergerak menuju 181

menjadi 244

Menjadi 240

Menjadi 219

Menjadi 214

Menjadi 202

Menjadi 194

181 tidak terdokumentasikan

Ohya selama 2 minggu di Pontianak, mbak Susi ini atas inisiatif sendiri TIDAK MENGKONSUMSI OBAT sama sekali

Kedalaman olah hipoxia ( nantinya berguna untuk mencapai SpO2 maksimum 99% dengan pH minimal 7 ) dalam ukuran waktu adalah 90 detik dengan kedalaman hingga 41 %. Ini pencapaian yang bagus untuk seorang praktisi pernapasan pemula.

Menarik bukan ? Weeeit, tetapi ini tidak instant lho, butuh upaya keras untuk berupa agar olah pernapasan ini bisa menjadi gaya hidup selanjutnya. Artinya semakin anda berumur maka anda harus mulai memiliki dan mengisi hidup dengan kegiatan yang berorientasi sehat

Apakah perjuangan mbak Susi untuk sembuh dari diabetes sudah selesai ? Belum, masih jauh tetapi progresnya sangat terprediksi dalam ukuran waktu, dimana di perkirakan apabila latihan mandiri berlangsung rutin dan bersemangat maka 3 bulan adalah angka yang mungkin.

“ Mas….mas.. Kenapa sih, harus pake 3 cara itu mas, kenapa nggak tembak langsung saja langsung privat atau jarak jauh ? “

Hmmm ini pertanyaan alot ya, tetapi secara subyektif apabila yang diajarkan berhubungan dengan sikap dan pembentukan jalan berpikir yang sensitif, termasuk masalah kesehatan, saya memang menganut pola belajar mengajar tradisional dan kolot, yaitu harus face to face, harus saling merasakan aura keterikatan emosional yang kental, tidak boleh ada hambatan psikologis untuk berkomunikasi dua arah, dan harus ada ketulusan manfaat.

Pengetahuan adalah sebuah ilmu yang bisa dikuasai dan dipergunakan, mirip dengan anak panah. Pada saat anak panah melesat terlepas dari busurnya, maka apapun yang terjadi selama dalam perjalanan menuju sasaran, arah lintasan anak panah sudah tidak akan bisa dibelokkan lagi oleh sang pemanah. Konsekuensi dari sang pemanah

Hehehe, ya ada idealisme tradisional mengenai istilah dari arti “ belajar” dan “ guru – murid “ . Bagi saya, keduanya harus memahami mengenai sisi terdalam dari ketiga kata itu.

Masih menurut saya, kata “ belajar “ yang masuk dalam kata kerja, adalah bagian dari upaya untuk mendapatkan pengetahuan atau petunjuk dari seorang guru yang diberikan kepada murid supaya diketahui dan diturut.

Jadi harus ada bimbingan, harus ada tuntunan, ada pengarahan untuk mencapai tujuan, memperlihatkan proses secara faktual dan tentu harus ada ikatan moralitas dan etis sehingga pengertian itu tetap tegak

Jangan sampai terjadi apa yang dikatakan oleh sebuah peribahasa :

Berguru kepalang — bagai bunga kembang tak jadi

Artinya : ilmu yang dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah.

Posted by Eko Yudho Tamtomo on Sunday, 16 September 2018

Posted by Eko Yudho Tamtomo on Sunday, 16 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *