TESTIMONI : OLAH NAPAS MAMPU MEMPERBAIKI SYARAF MATA PADA KASUS OCULAR HYPERTENSI ( KONDISI TEKANAN TINGGI PADA BOLA MATA )

REGENERASI SEL SYARAF TERJADI KARENA OKSIGEN, BAGAIMANA CARA KERJANYA ?

Tanggal 10 Juni 2019 saya kembali mendapat kabar gembira progres kesembuhan dari salah satu anggota Komunitas Pernapasan MoBI dari Kolat Untan Pontianak yang sedang pulang ke Bali. Namanya mbak Indrawati, kami biasa memanggilnya mbak Iin.

Semenjak setahun lalu mbak Iin memang sangat antusias untuk berlatih olah pernapasan, saya sekilas diberi tahu bahwa beliau saat itu mengalami tekanan tinggi pada bola mata kanannya yang mengakibatkan penglihatan mulai kabur 30 – 40 persen.

Pada saat itu saya hanya tahu bahwa itu adalah jenis hipertensi yang menyerang pada bola mata ( Ocular Hypertensi ). Dan saat itu sebagai praktisi olah pernapasan untuk penyembuhan baru, saya berharap bahwa “mungkin” saja penyakit yang relatif tidak saya kenal ini bisa sembuh. Saya memang 35 tahun mengenal beladiri pernapasan, tetapi sangat junior dalam pernapasan penyembuhan. Saya tidak mau berperan menjadi malaikat serba tahu, saya tahu persis keterbatasan saya, yang jelas saya hanya berupaya mencarikan cara terbaik dalam berlatih, ada kesan gambling, try and error, saya berjudi dengan kepercayaan, pengetahuan dan nama baik. Semua jenis pengetahuan berkembang merambat dengan cara seperti ini. Tetapi saya meyakini bahwa “ oksigen adalah penyembuh sejati “, obat bagi ribuan macam penyakit. Hanya saja kita jarang menggalinya.

Kita lanjut,….Hipertensi okular adalah kondisi pengukuran bola mata menggunakan alat tonometer dan apabila ditemukan tekanan bola mata anda melebihi 21 mm Hg maka anda menderita penyakit ini. Oh ya, standar tekanan bola mata normal adalah sekitar 10-21 milimeter raksa (mm Hg). Apa yang terasa oleh penderita ? Biasanya terjadi penyempitan lapang pandang tepi, tegang pada mata, sakit kepala ringan, gangguan penglihatan yang tidak jelas ( misalnya melihat lingkaran di sekeliling cahaya lampu atau sulit beradaptasi pada kegelapan ). Pada akhirnya akan terjadi penyempitan lapang pandang yang menyebabkan penderita sulit melihat benda-benda yang terletak di sisi lain ketika penderita melihat lurus ke depan ( disebut penglihatan terowongan ). Kondisi ini dalam beberapa istilah kedokteran disebut juga glaukoma sekunder.

Nah, Hasil lab tahun 2017 di perlihatkan hasil dari pemeriksaan tonografi ( gambar medis syaraf mata dalam berbagai sudut pandang yang berbeda ) kepada saya yang memang memperlihatkan kondisi mata. Bahkan pada bagian belakang retina terlihat bahwa serabut syaraf mata dalam keadaan hampir terputus dimana kondisi kehilangan penglihatan mencapai 30 – 40 %. Sebagai awam praktisi pernapasan yang tidak mengetahui secara detail tentang mata, saya tidak ingin terlihat sok tahu, saya hanya menangkap hasil gambar lab itu memang memperlihatkan sebuah jalur syaraf mata yang nyaris terputus. Hanya itu……. yang saya pikirkan tentu saja bagaimana syaraf mata itu tersambung.

Mbak Iin menyampaikan dengan saya, bahwa setelah konsultasi dengan dokter JEC ( Jakarta Eyes Center ) dan sebagai second opinion dari satu rumah sakit di Kuala Lumpur, Malaysia diperlukan sebuah tindakan operasi perbaikan syaraf mata dengan biaya yang di perkirakan mencapai 100 juta rupiah ! Wow…. apa yang anda pikirkan dengan biaya sebesar itu ?

Dalam setahun progres latihan olah napas terasa berjalan lambat dengan hasil yang datar dan tidak begitu menggembirakan. Keluhan masih tetap sama, mata kanan pegal dengan tekanan yang masih tetap terasa. Mbak Iin pun mengurangi pertemuan dan frekuensi latihan karena kesibukan sampai saya menemukan metode “ Gravitasi “. Sebuah metode sederhana yang menggabungkan pernapasan Hipoxic serta salah satu pose Surya Namaskara pada saat Hiperoxic,…..dan sikap ini membuat “ Gravitasi “ memaksa darah yang kadar oksigennya termanipulasi membanjir lebih banyak terbentuk pada bagian kepala terutama pada mata.

RUJUKAN LANDASAN PIKIR MANIPULASI KADAR OKSIGEN DALAM DARAH DAN PENYEMBUHAN SYARAF

Anda bisa merujuk pada salah satu referensi ilmiah pada link dibawah ini, terutama baca pada allinea 1. Penjelasan mengenai kerja oksigen pada tingkal molekul :https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2733087/

Molecular oxygen has been known to play a critical role in a wide range of biological processes including glycolysis, mitochondrial respiration, angiogenesis, pulmonary functions, and cardiovascular activities. An emerging theme has developed in recent years that oxygen has significant impact on embryonic development, maintenance of stem cells, and cellular differentiation or cell fate decisions. Among the notable observations, early embryonic development takes place in a hypoxic microenvironment. Hematopoietic stem cells appear to be located in hypoxic regions within the bone marrow. Majority of the current observations have shown that hypoxia seems to prevent cellular differentiation and to maintain pluripotency of stem/progenitor cells. Genetic studies have demonstrated a critical role of hypoxia-inducible factors 1α and 2α in embryonic development. These intriguing observations demonstrate an important role of molecular oxygen in such fundamental biological processes as stem cell maintenance and regulation of cell fate decisions. Herein, we describe some of the latest advances in the biology of molecular oxygen and provide our perspectives on the potential impact of these interesting findings.”

Terjemahan : “Oksigen molekuler telah diketahui memainkan peran penting dalam berbagai proses biologis termasuk glikolisis, respirasi mitokondria, angiogenesis, fungsi paru, dan aktivitas kardiovaskular. Tema yang muncul telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir bahwa oksigen memiliki dampak signifikan pada perkembangan embrionik, pemeliharaan sel induk, dan diferensiasi sel atau keputusan nasib sel. Di antara pengamatan penting, perkembangan embrio awal terjadi di lingkungan mikro hipoksia. Sel-sel induk hematopoietik tampaknya terletak di daerah hipoksia dalam sumsum tulang. Mayoritas pengamatan saat ini menunjukkan bahwa hipoksia tampaknya mencegah diferensiasi sel dan mempertahankan pluripotensi sel induk / progenitor. Studi genetik telah menunjukkan peran penting faktor hipoksia-inducible 1α dan 2α dalam perkembangan embrionik. Pengamatan menarik ini menunjukkan peran penting molekul oksigen dalam proses biologis mendasar seperti pemeliharaan sel induk dan regulasi keputusan nasib sel.

Di sini, kami menggambarkan beberapa kemajuan terbaru dalam biologi oksigen molekuler dan memberikan perspektif kami tentang dampak potensial dari temuan menarik ini. Menarik ya, kesimpulannya memanipulasi kadar oksigen baik hipoxic atau hiperoxic secara teratur dan terkendali menggunakan paru paru mampu memaksa sel induk memindai sel yang rusak sehingga meregenerasi dan memperbaiki dirinya. Dan ini tentunya termasuk regenerasi pada sel-sel syaraf tentunya.

Tiga bulan berlatih dengan metode “ Gravitasi “ secara simultan, tiba-tiba mbak Iin kembali minta ijin tidak berlatih untuk menemani anaknya untuk berlibur di kampung halaman suaminya di Bali persis saat menjelang libur Idul Fitri. Saya hanya memastikan untuk selalu berlatih dengan metode baru itu selama liburan.

HAPPY ENDING HASIL LAB TERAKHIR K

abar gembiranya adalah tanggal 10 Juni 2019 dengan WA plus laporan hasil pemeriksaan syaraf mata. Saya tidak menyangka bahwa masa libur juga di pergunakan mbak Iin untuk melakukan check kesehatan. Tampak progres perbaikan syaraf mata dengan garis rata yang menunjukkan terjadinya regenerasi sel yang nyaris sempurna dengan hasil sangat mengesankan. Keajaiban sedang terjadi didepan mata, tidak membuang waktu, saya segera telpon dan mengucapkan selamat, tentu saja disambut kalimat dengan rasa syukur sambil menangis haru antara senang dan bahagia oleh mbak Iin. Selamat mbak, Tuhan berkenan memberikan keajaibannya untuk anda. Masih tidak percaya keajaiban pernapasan ? Percayalah itu bisa terjadi pada anda juga !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *