CD 4 DAN HIPOTESA PERLAKUAN OLAH NAPAS PADA PENDERITA HIV ( HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS )

Minggu lalu, tepatnya 26 Mei 2019 sekitar pukul 7.29 pagi, seseorang menghubungi dari pulau Jawa dari sebuah kota. Kali ini saya tidak bisa banyak memberikan informasi tentang jati diri orang tersebut, karena alasan etis. Sebut saja MR. X, Yang jelas, setelah membaca banyak artikel saya tentang bagaimana virus tumbuh dan berkembang dalam tubuh manusia melalui akun FB ini, Mr X ini bertanya banyak tentang bagaimana metode peningkatan pH darah bisa membunuh virus.

Kebetulan karena saya sedang melatih kelompok kecil olah napas saya di Fakultas Teknik Untan. Saya meminta waktu menunda pembicaraan dan akan melanjutkannya setelah latihan selesai. Tetapi sebelum telepon di putus, Mr. X mengatakan bahwa dia adalah seorang penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus ), hanya sebagai informasi, HIV adalah sebutan masa inkubasi dari serangan virus yang selanjutnya menjadi AIDS.

Saya tercengang….sungguh ini mengejutkan. Tidak banyak penderita yang mau bercerita tentang dirinya yang menderita HIV, selain rasa tertekan yang hebat, faktor sosial juga menjadi alasan untuk bungkam. Ditengah dunia yang penuh prasangka, tidak ada yang ingin aibnya tersingkap. Terimakasih Tuhan, impian saya jadi kenyataan, sejak tahun lalu saya selalu mengirimkan pesan kepada siapapun yang menderita HIV diluaran melalui siapa saja agar mencoba metode olah napas ini tanpa biaya.

Saya ingin belajar bagaimana virus ini bereaksi terhadap perubahan asam basa darah yang selama ini saya teorikan dengan berpegang pada hasil percobaan-percobaan Dr Warburg mengenai metabolisme jasad renik dan kanker. Hasilnya selama satu tahun, tidak ada satupun yang menjawab. Tetapi hari itu saya sungguh sungguh beruntung.

APA ITU HIV ?

Saya akan menjelaskan dulu apa itu HIV. Banyak yang tahu secara umum tetapi tidak tahu detail. Saya akan perjelas dengan mengambil garis garis besar tentang Human immunodeficiency virus (HIV) ini. HIV dikelompokkan ke dalam genus Lentivirus dalam keluarga Retroviridae, subfamili Orthoretrovirina. Atas dasar karakteristik genetik dan perbedaan antigen virus, HIV diklasifikasikan menjadi tipe 1 dan 2 (HIV-1, HIV-2).

Virus immunodeficiency primata non-manusia (Simian Immunodeficiency Virus, SIV) juga dikelompokkan ke dalam genus Lentivirus.Analisis epidemiologis dan filogenetik, HIV dimasukkan ke dalam populasi manusia sekitar tahun 1920 hingga 1940. HIV-1 berevolusi dari virus primode imunodefisiensi non-manusia dari simpanse Afrika Tengah (SIVcpz) dan HIV-2 dari mangabeys Afrika Barat (SIVsm)HIV dapat masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir yang utuh, kulit atau mukosa yang eksim atau terluka dan dengan inokulasi parenteral, misalnya dengan cara hubungan seksual atau infeksi luka terbuka.

Penularan HIV juga dapat melalui melalui darah atau organ yang dicangkokkan, termasuk tulang, yang terjadi pada hari 5-6 setelah infeksi donor. Penularan ibu-ke-anak terjadi saat minggu ke-12 kehamilan, tetapi penularan terjadi terutama (> 90%) pada trimester akhir dan terutama sesaat sebelum atau selama kelahiran. HIV juga dapat ditularkan melalui ASIRESPON TUBUH SETELAH TERTULAR

Dengan timbulnya respon imun terhadap HIV setelah 3-6 minggu, gejala klinis bervariasi dapat diamati pada sebagian besar orang yang terinfeksi dengan demam, pembesaran kelenjar getah bening, kelelahan, malaise, ruam dengan kecil, hanya lesi yang sedikit meningkat dan / atau gejala gastrointestinal. Gejala-gejala ini tidak spesifik dan juga ditemukan pada infeksi virus lain seperti mononukleosis atau influenza yang diinduksi EBV dan CMV.

Neuropati ( sakit otot ) akut sering terjadi pada fase akut. Gejalanya menetap selama 2-6 minggu. Fase simptomatis awal ini biasanya diikuti oleh fase asimptomatik atau fase simptomatis yang dapat berlangsung bertahun-tahun.

Yang menakutkan, HIV justru berkembang dengan cara menyerang CD4 ( sel darah putih / limphosit ) Jika infeksi HIV dibiarkan tanpa perawatan, sel CD4 akan menurun dan melemahkan kekebalan tubuh. Jumlah CD4 orang yang tidak terinfeksi dapat berkisar dari 400 hingga 1.200 sel / mm3.

Infeksi oportunistik tertentu akan mulai bermanifestasi ketika jumlah CD4 turun hingga di bawah 200. Karena sel limphosit ( kekebalan tubuh ) menurun maka penyakit yang sebelumnya dapat ditahan, menjadi tidak terbendung dan menyerang secara acak dan luas. Diantaranya adalah Toxoplasma gondii , Cryptosporidium parvum ( penyakit yang menyerang usus ) , Pneumocystis jirovecii ( Pnemonia karena jamur yang mengakibatkan peradangan dan penumpukan cairan pada paru-paru ) , Mycobacterium tuberculosis ( TBC ) dan mycobacteria, Salmonella spec., Pneumococci, JC polyomavirus manusia, virus cytomegalovirus (CMV) dan virus herpes simpleks).

Tampilan khas biasanya tampak pada penderita infeksi HIV adalah sarkoma Kaposi yang terkait dengan human herpes virus tipe 8 (HHV-8), limfoma non-Hodgkin, yaitu virus Epstein-Barr (EBV) yang berhubungan dengan limfoma sel B dan karsinoma pada penis, anus. dan leher rahim yang disebabkan oleh human papillomaviruses (HPV).

APA ITU CD4 DAN MENGAPA PENTING MENGAMATI CD4 ?

Dalam biologi molekuler , CD4 (Cluster of Differentiation 4) adalah glikoprotein yang ditemukan pada permukaan sel imun seperti sel helper T , monosit , makrofag , dan sel dendritik . Ditemukan pada akhir 1970-an dan pada awalnya dikenal sebagai leu-3 dan T4 sebelum dinamai CD4 pada tahun 1984. Pada manusia, protein CD4 dikodekan oleh gen CD4.

CD4 merupakan bagian sel darah putih yang bertugas untuk menjaga kekebalan tubuh. Tentunya kita tahu terdapat sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit) dalam tubuh. Leukosit terdiri atas berbagai tipe sel, salah satunya adalah limfosit.

Limfosit diproduksi oleh sel punca hematopoietik di sumsum tulang dan mengalami maturasi di bursa (limfosit B dan timus (limfosit T). Kedua sel limfosit tersebut memiliki fungsi yang berbeda, limfosit B menghasilkan antibodi untuk melawan zat atau bakteri atau virus yang menginfeksi tubuh, sedangkan limfosit T berfungsi sebagai imunitas adaptif untuk menghancurkan sel yang telah terinfeksi virus dan menjadi jembatan dalam berbagai proses imunologis. Persamaan dari kedua sel tersebut adalah kemampuannya untuk mengingat proses imunologis sehingga bila dirangsang untuk kedua kalinya, maka limfosit dapat menghasilkan antibodi atau segera menghancurkan proses yang berpotensi melukai tubuh. Perannya sebagai jembatan dalam berbagai proses imunologis dilakukan oleh sel limfosit T yang memiliki glikoprotein CD4 pada permukaan sel nya.

Infeksi HIV diketahui memiliki hubungan yang erat terhadap menurunnya sel CD4. Begitu HIV masuk ke dalam darah manusia, ia menginfeksi semua sel yang mengekspresikan antigen CD4 (sel T helper, sel Glial, Makrofag dll) yang bertindak sebagai reseptor untuk virus gp120. Hal yang pasti pada infeksi HIV ialah terjadinya penghancuran sel CD4. Akibatnya, fungsi limfosit akan lumpuh dan tidak dapat bekerja sebagai jembatan reaksi imunologis terhadap tubuh. Kondisi ini terlihat sebagai daya tahan tubuh yang menurun.

Jumlah CD4 adalah ukuran fungsi kekebalan tubuh. Jumlah CD4 orang yang tidak terinfeksi dapat berkisar dari 400 hingga 1.200 sel / mm3. Infeksi tambahan akan muncul ketika jumlah CD4 turun hingga di bawah 200.

APA YANG DUNIA MEDIS SUDAH BERIKAN PADA PENDERITA HIV ? ARV ( ANTIRETOVIRAL HIV )

Ya dunia medis sudah memberi sumbangan besar dengan ditemukannya terapi antiretroviral HIV yang saat ini dikenal dengan kombinasi 2 atau lebih ARV seperti dibawah ini

  1. Nucleoside / nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NRTIs), juga disebut analog nukleosida, seperti abacavir, emtricitabine, dan tenofovir. Obat-obatan ini sering dikombinasikan untuk hasil terbaik.
  2. Nonnucleoside terbalik transcriptase inhibitor (NNRTI), seperti efavirenz, etravirine, dan nevirapine.
  3. Protease inhibitor (PI), seperti atazanavir, darunavir, dan ritonavir.
  4. Entry Inhibitors (EI), seperti enfuvirtide dan Maraviroc.
  5. Integrase Inhibitors (II), dolutegravir and Raltegravir.

Obat anti retroviral ini bekerja dengan cara cara ini :

  1. Fusi sel: Mencegah virus memasuki sel manusia
  2. Membalik transkripsi: Mencegah penyalinan RNA virus ke dalam DNA, yang menghalangi virus untuk berintegrasi dengan sel manusia atau membuat salinannya sendiri. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 87 Tahun 2014 disebutkan, ARV berguna untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

Antiretrovirals (ARV) telah diakui dunia sebagai obat yang bisa digunakan untuk mengobati HIV/AIDS. Namun, ARV hanya mampu meredam virus dan belum mampu membunuh HIV secara menyeluruh.

HIPOTESA MELAWAN VIRUS BAKTERI DAN JAMUR DENGAN PH BASA DAN MENAIKKAN KADAR OKSIGEN TINGGI MELALUI OLAH NAPAS

Saya masih berpegang pada hipotesa saya yang selama ini saya gunakan untuk membantu beberapa orang penderita sakit karena virus dan juga masalah sistemik metabolis yang kemudian dinyatakan sembuh secara klinis melalui uji laboratorium.

Tubuh memiliki kemampuan homeostasis pada saat pH ideal yaitu berada pada kisaran 7,35 – 7,45. Semua kendali atas seluruh sistem kerja metabolisme akan berjalan sebagaimana mestinya. Dibawah dari pH itu( 4 – 6 ) maka manusia akan masuk dalam fase regresif ( menuju sakit ), sedangkan lebih dari pH ( ph 8 – 9 ) itu akan masuk dalam fase defend / progresif ( mempertahankan diri secara aktif )

Pada artikel-artikel yang lalu saya menyampaikan bahwa setiap mahluk hidup memiliki jatah kapling pH tertentu agar dapat tumbuh dan berkembang biak. Apabila rentang toleransi daya tahan kodrati pH itu di lewati baik keatas atau kebawah maka jasad renik itu akan mati.

pH darah menjadi tinggi berbading lurus dengan kadar oksigen yang tinggi dalam darah. Dimana sudah menjadi rahasia umum, oksigen mampu membunuh virus dan bakteri. Ohya saya berbicara secara holistik, bukan parsial. Artinya anda tidak mungkin membicarakan mengenai membunuh virus hanya dengan oksigen dan pH saja. Kondisi metabolisme dan kerjasama mekanisme homeostasis akan saling berkaitan yang membuat seluruh kondisi menjadi positif dan kuat untuk bertahan dan melawan virus.

Saya mengetahui mengenai kontradiksi pemahaman yang terjadi antar pelaku dunia kesehatan yang memperdebatkan mengenai teori asam basa ini. Masing masing akan berpegang pada pakem pengetahuan yang dianggap benar. Tidak mengapa pengetahuan tentang pernapasan dan kimia tubuh asam basa ini di anggap sebuah pseudoscience, pada saatnya waktu akan mendorong banyak orang pintar tertarik menekuni bidang ini dan menjadi mungkin akan menjadi sebuah sebuah sains murni.Pengetahuan ini memang tidak menjanjikan finansial besar, tetapi menjanjikan sebuah tindakan kemanusiaan besar. Buat saya nothing to lose.

Para penderita itu sudah kehabisan seluruh daya yang mereka punya, tenaga, waktu, pikiran, perasaan, airmata, dan harta benda agar berupaya untuk sembuh. Mungkin saatnya mereka upayakan apa yang terakhir mereka punya. Pernapasan mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *